Minggu, 09 Maret 2014

BAB 4 - PENUTUP

BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Disaster Recovery Plan di bidang teknologi informasi merupakan salah satu aspek penting dalam mendukung keberlangsungan bisnis setelah terjadinya bencana, untuk mempertahakan semua pihak yang terlibat pada bisnis tersebut termasuk konsumen dan pelaku bisnis itu sendiri.
Mungkin saja sebuah organisasi tidak memerlukan disaster recovery plan. Jika organisasi tersebut memiliki unit bisnis yang dapat bertahan selama masa interupsi, atau bisa saja organisasi tersebut tidak memiliki area proses vital yang diperlukan beberapa jenis pemulihan bencana. Dalam hal ini, disaster recovery plan mungkin tidak perlu diterapkan oleh organisasi tersebut.
Bencana alam dan buatan manusia dapat terjadi. Angin puyuh, gempa bumi, kebakaran, banjir, tindakan kriminal dan teroris, serta kesalahan manusia dapat sangat parah merusak sumber daya komputasi suatu organisasi, dan kemudian kesehatan organisasi itu sendiri. Banyak perusahaan terutama peritel e-commerce online dan grosir, penerbangan, bank, serta ISP (Internet Service Provider), dibuat tidak berdaya karena kehilangan kekuatan komputasi selama beberapa jam. Itulah alasan mengapa organisasi mengembangkan prosedur pemulihan dari bencana (disaster recovery).
Pada saat ada kejadian bencana tentunya organisasi tidak akan memiliki waktu banyak untuk membuat rencanan pemulihan di lokasi bencana saat terjadi. Dengan perencanaan yang baik dan proses simulasi sebelum benar ada kejadian bencana, maka organisasi akan dapat memperkirakan kemampuannya dalam menghadapi suatu bencana.

4.2 Saran
Berikut beberapa saran umum dalam membuat disaster recovery planning yang sangat akurat:
1.      Manajemen kebocoran air dan air bah, lokasi aset strategis ditempatkan pada wilayah lebih tinggi dan jauh dari bencana air bah yang lalu. Bahan bangunan dan bentuk bangunan anti bencana atau tahan bencana air bah atau kebocoran. Sistem pengeringan (drainase) air yang masuk agar dapat segera keluar kembali dan kering.


2.      Manajemen risiko kebakaran atau panas berlebihan, bangunan tahan api, sumber api diminimumkan, misalnya arus pendek listrik dihindari dengan sistem listrik (automaticshutdown bila terjadi arus pendek) dan kualitas bahan (kabel dll). Membangun hubungan dengan pemadam kebakaran, pelatihan penggunaan sarana pemadam kebakaran bagi karyawan. Bentuk bangunan yang tak menyebabkan penjalaran sumber api atau peledakan karena api.
3.      Risiko power terdiri dari kegagalan transformasi, kerusakan jaringan (kabel dll), petir, kegagalan fungsi sarana pendukungpower, tenaga pasok power tak cukup, sabotase atau terorisme. Manajemen mengembangkan UPS, power cadangan (genset dll), dan meningkatkan tingkat handal pasok energi.
4.   Pengendalian akses fisik terhadap aset yang mengandung risiko bencana karena penggunaan yang keliru, ceroboh atau sabotase para pengguna dan atau karyawan entitas sendiri, termasuk masuknya virus kepada sistem.






Link

Tidak ada komentar:

Posting Komentar